Page 41 - Buku Ajar Pendidikan Kewarganegaraan
P. 41

sejarah,  serta  relevansi  Semboyan  Negara  "Bhinneka  Tunggal  Ika"
                  dalam konteks Indonesia.

                   1.  Makna Semboyan "Bhinneka Tunggal Ika"
                      Semboyan  "Bhinneka  Tunggal  Ika"  mengandung  makna  yang
                      dalam:
                  a.  Bhinneka
                      Kata ini berarti "berbeda-beda" atau "beragam." Ini menunjukkan
                      keragaman budaya, suku, agama, bahasa, dan tradisi yang ada di
                      Indonesia. Negara ini merupakan rumah bagi beragam kelompok
                      etnis dan budaya, dan "Bhinneka" merujuk pada keragaman ini.
                  b.  Tunggal
                      Kata  ini  berarti  "satu"  atau  "bersatu."  Meskipun  ada  berbagai
                      perbedaan  di  antara  masyarakat  Indonesia,  semboyan  ini
                      mengingatkan  kita  bahwa  kita  semua  adalah  bagian  dari  satu
                      bangsa,  satu  negara.  Ini  menekankan  pentingnya  persatuan  di
                      tengah keragaman.
                  c.  Ika
                      Kata ini adalah kata ganti orang ketiga tunggal yang berarti "dia"
                      atau  "itu."  Dalam  konteks  semboyan  ini,  "Ika"  mengacu  pada
                      bangsa  Indonesia  sebagai  keseluruhan  yang  harus  bersatu
                      meskipun beragam.
                      Makna  Semboyan  Negara  "Bhinneka  Tunggal  Ika"  adalah  pesan
                      bahwa meskipun kita memiliki perbedaan dalam berbagai aspek
                      kehidupan,  kita  tetap  satu  bangsa  yang  harus  bersatu  demi
                      kepentingan bersama.
                   2.  Sejarah Semboyan "Bhinneka Tunggal Ika"
                      Asal-usul  Semboyan  "Bhinneka  Tunggal  Ika"  dapat  ditelusuri
                      kembali ke masa sebelum Indonesia merdeka. Frasa ini pertama
                      kali  ditemukan  dalam  naskah  lontar  yang  disebut  "Sutasoma,"
                      yang  ditulis  oleh  Empu  Tantular,  seorang  penyair  dan  pemikir
                      dari kerajaan Majapahit pada abad ke-14. Dalam naskah ini, frasa
                      "Bhinneka  Tunggal  Ika"  digunakan  sebagai  bagian  dari  pesan
                      tentang persatuan dalam keragaman.
                      Semboyan  ini  kemudian  menjadi  semakin  penting  selama
                      perjuangan  kemerdekaan  Indonesia.  Para  pemimpin  pergerakan
                      kemerdekaan seperti Soekarno dan Hatta memahami pentingnya
                      keragaman  dan  persatuan  dalam  meraih  kemerdekaan.  Mereka


                   Pendidikan Kewarganegaraan                                     39
   36   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46